<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">
  <channel>
    <title>Setapak Langkah</title>
    <description>Setapak Langkah</description>
    <link>https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/</link>
    <pubDate>Mon, 6 Apr 2026 03:43:36 GMT</pubDate>
    <generator>World Nomads Adventures</generator>
    <item>
      <title>Asnah Si Tungkek Tungkek Tak Berkeluh</title>
      <description>&lt;p&gt;&lt;img src="https://s3.amazonaws.com/aphs.worldnomads.com/setapak-langkah/27649/CIMG0277_medium.jpg"  /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;span&gt;Pariok tabuah kuali sompong&lt;br /&gt;Sabatang
 karo batahan iduik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup maka aku bisa, itulah 
prinsip kehidupan yang terpahat jauh dari manula ini, siapa sangka 
tungkek yang selalau ia genggam melantunkan irama pantang menyerah, tak 
kalah pialang dengan filosof Descartes, &lt;span&gt;Aku berfikir maka aku ada&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja itu, riuk-pikuk 
kehidupan pasar memancing rasa penasaranku menyoroti tiap liuk belahan 
pabukoan, ragam corak dan aktivitas dagang memang sangat melekat sebagai
 simbol masyarakat kota ini, ingatku terseret pada kota asalku, tepatnya
 pajak suka ramai yang semakin lekat dengan ajo-ajo medan. Ku tapaki 
anak demi anak tangga, sekitarnya sangat unik, ada pedagang di pasar 
atas dan di antara anak tangga tersebut bertelekan para amay yang 
memengang mangkuk mengharap ada yang memberi rupiah kepadanya. “es 
cendol durian….durian” ucap seorang pedanga. Bahkan tiap melangkah masih
 saja terdengar suara mereka, menanda suasana pasar di ramaikan pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa
 meter dari tempat itu, tepatnya jalan sekitar jam gadang, tampak sosok 
yang membuat aku terperangah, perawakan yang sangat unik, cukup ntuk 
menggetarkan nurani, pemandangan yang tidak dapat dengan mudah di 
temukan di sepanjang panopakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asni, ialah yang membuat corak 
baru dari aktivitas warga sekitar. Terhening sejenak, aku berfikir pasti
 ialah kartininya bukit tinggi yang sangat perkasa, karismatik nan mekar
 di antara tandus peradaban sekitarnya. Lihatlah ia, tak pernah 
sekali-kali ku lihat amay ini mengangkat tangan nya di antara mereka 
yang sedang rehat sekitar putaran jam gadang kecuali membungkukkan 
bahunya yang telah renta di sekat-sekat kubangan nafkah bertanda 
“buanglah sampah pada tempatnya”, tak banyak yang ia cari di dalam nya, 
hanya buangan dari balabiah minuman ataupun kresek dari orang yang 
tertarik pada susunan kata itu. Tapi bagi dirinya, mungkin itu lebih 
baik dari pada mengharap recehan tiap orang yang lewat di tepi-tepi 
trotoar di belakang gedung muhammad hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi asnah, usia 70 
tahun dengan berteman tongkat bukanlah alasan untuk mengeluh dan 
mengalah pada kerasnya hidup, biai tinggal dimano? Ujar ku mencoba untuk
 tahu. “ambo sabatang  karo, kaki ambo sakiak” jawabnya. Asnah mencoba 
memceritakan keadaan nya yang sebatang kara dengan kondisi kaki yang 
sakit, dengan cirik mato yang memutih,  jalan nya yang bungkuk dan 
tongkat yang terlilit, membuat kita terhenyak dengan kemandiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan
 terus melekat padanya, sejak tiga anaknya meninggal ketika masih kecil,
 di tambah dengan lara di tinggal suami pergi antah-berantah kemana. 
Tampaknya cobaan sangat akrab dengan dirinya, terlebih masalah keluarga.
 Kegagalan demi kegagalan telah melingkari hidupnya sebanyak 5 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup
 sekali aku merasa kehilangan cinta” lagu tersebut layak pungguk 
merindukan rembulan bagi asnah, itulah sekilas mengenai kisruh dirinya 
di dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tidak ada pilihan bagi asnah 
terkecuali bekerja dan bekerja, apapun di lakoninya hanya untuk batahan 
iduik (bertahan hidup). Dalam hati saya berkecamuk, dan bil haq sangat 
sulit di dapati sosok asnah-asnah lainnya di belahan dunia ini, seorang 
nenek dengan tulang tanpa daging berlapis kulit, dengan kaki sedikit 
pincang mampu terus bekerja mencari botol demi botol sisa dahaga anak 
adam-hawa, dengan menempuh jarak tiga kilometer berjalan kaki 
menari-nari di antara sudut-sudut kota dan lorong lara menilik kotak 
infak bernama tong sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi di balas budi, pepatah yang telah
 menjadi hukum alam, terlebih di lingkungannya. Itulah yang menopang 
semangat hidupnya. Dulu, tepatnya 20 tahun silam, asnah merupakan sosok 
yang dermawan, walaupun hidupnya mengandalkan jualan kacang abuih dan 
kacang goreng, namun ia mampu mengeluarkan sedikit dari tak seberapa 
rupiah yang ia dapat dari berjualan untuk anak-anak yang bernasib sama 
dengan nya saat ini. Buah dari akhlak siti aisyah yang di amalkannya 
saat muda kini dapat ia nikmati juga, karena ia tidak terlantar lagi. 
Anak-anak yang dahulu ia tolong kini berlapang hati menerima nya untuk 
tinggal bersama, walaupun hanya di wisma orang-orang tak punya namun itu
 sedikit membantu hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dzuhur tiba, asnah pun mulai 
keluar menepaki surau jalan mencari puing-puing botol minuman plastik 
seperti biasanya. Namun, hari ini di dalam plastik kresek biru itu 
tampak segumpal jerih payah botol-botol yang di dapatnya, itu menandakan
 ia sedang beruntung. Dari hasil itu terkadang ia dapat mengantongi uang
 20 ribu, itu pun hasil selama 4 hari berkelana. Namun nasib tidak 
selalu seberuntung itu, lebih sering ia telusuri dengan tentengan kresek
 yang Cuma berisi 1 botol plastik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku bertanya 
lagi, nenek tinggal dimano?. “ambo di usir kaluarga, kalau ambo baduik 
ambo di tarima tapi kalau indak ado di usir” ujar nya dengan nada datar.
 Dimana kampuang amay? Ku tanya, “di kamang, ambo takuik di lakak”. 
Bukanlah asnah tidak punya sanak saudara dan bukan pula ia tak punya 
kampung halaman, ia harus pergi karena kampung halaman karena di usir 
oleh keluarga nya. Kamang, itulah kampung halaman nya yang lekat dengan 
khas makanan lamang, lamang merupakan kue khas daerah kamang, terbuat 
dari beras ketan yang di masukkan ke dalam bambu yang di bakar, dan 
lamang sangatlah nikmat jika di kawinkan dengan durian. Itulah yang 
menjadi alasan keberadaan asnah bertengkeran di sekitar jam gadang dan 
itu pula alasan keluarga muslim dan guslaidar dengan 2 anak mau menerima
 asnah di rumah kontrakan komplek miskin tua, rumah berukuran kamar 
mandi di hotel aku menginap, hotel Pusako.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tinggal di 
kompleks miskin dan makan dua kali sehari ini, itupun hanya dengan lauk 
ikan asin, namun ia tetap bersyukur. Uang hasil jerih payah yang di 
dapat terkadang ia sisihkan untuk membantu biaya kontrakan Rp 70 ribu 
rupiah per bulan. Tidak ada harapan yang lebih besar yang panjatkan, ia 
hanya berharap di dalam sholat nya agar tetap di berikan kesehatan di 
usia nya yang renta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Ada 
uang abang sayang….. &lt;br /&gt;tak ada uang abang ku tendang..&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;lirik
 lagu inilah yang sedikit banyaknya mirip dengan apa yang di alami 
asnah. Itulah ketegaran dari sosok asnah yang di terima keluarga apabila
 punya uang dan kerap di usir oleh keluarganya apabila tidak punya uang,
 di sela kerinduan pada suaminya Tengku Rajo yang tak kunjung jua datang
 menyapa dirinya yang sedang di lipur lara. Ramadhan tahun ini tidak ada
 istimewa bagi asnah, karena tidak jua ada sanak keluarga yang 
mengunjunginya, hanya saja ramadhan tahun lalu asnah dapat berjalan 
dengan baik meskipun dengan tongkat, kini setelah tragedi jatuh dari 
bendi di perempatan simpang dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) yang 
teletak tidak jauh dari rumah nya, ia  terjatuh dan menyebabkan ia 
pincang hingga kini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini hidupnya hanya di lalui mulai dari 
Jl.Panorama di depan kantor PDAM kompleks rumah tua bertulis Photo Copy 
centre Pella Donna sampai hilir sudut kota panabokan. Ketegaran nya 
mencerminkan banyak hikmah untuk pantang menyerah menghadapi berbagai 
getir nya cobaan hidup dan  kondisi sosial, karena kita di ciptakan 
tuhan sebagai manusia Luar biasa.
</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/story/69870/Indonesia/Asnah-Si-Tungkek-Tungkek-Tak-Berkeluh</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>setapak-langkah</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/story/69870/Indonesia/Asnah-Si-Tungkek-Tungkek-Tak-Berkeluh#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/story/69870/Indonesia/Asnah-Si-Tungkek-Tungkek-Tak-Berkeluh</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Mar 2011 19:48:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Photos: KREATIF</title>
      <description>Orientas Alam</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/photos/27649/Indonesia/KREATIF</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>setapak-langkah</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/photos/27649/Indonesia/KREATIF#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/setapak-langkah/photos/27649/Indonesia/KREATIF</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Mar 2011 19:15:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
  </channel>
</rss>