<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">
  <channel>
    <title>And the story goes...</title>
    <description>welcome to my world..and join my journey.. I'm a twilight junkie and simply complicated sea lover..</description>
    <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/</link>
    <pubDate>Sun, 5 Apr 2026 12:14:43 GMT</pubDate>
    <generator>World Nomads Adventures</generator>
    <item>
      <title>My Travel Writing Scholarship 2011 entry - Responsible Travel</title>
      <description>
TURTLE CAN FLY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It called Sangalaki. It’s a small island in Makassar Strait, between Borneo Island and Celebes Island, Indonesia, which surrounded by crystal clear water and covered by white sand. It’s so peaceful here. Sangalaki is an unpopulated island. However, it’s a home of green sea turtle. Every night, about 20 mother turtles come to the shore to grave their eggs into the sand. After nesting, they go back to the sea, left the eggs without any protect. That’s why; there is a monitoring station in this island which occupant by only 2 people. They are Conservation Service officers. Every early morning, they move the turtle eggs on to the hatchery to protect them from predators. &lt;br /&gt;The hatchery is surrounding by high wooden fence and full of graves with wooden boards. Just as a funeral. However, the graves are for sea turtle eggs. Each grave had signed with date when the eggs discovered. Turtle egg will incubate after 60 days. Lucky I am. There is one hole full off baby turtles. They’ve just incubated. There are about 80 babies come out from a small hole. They are so exciting to face the world. But it’s not the right time. They have to be patient. It still noon. Day light is so bright and predators can see them obviously. They take the babies to the monitoring station. I love to touch them. Feel their step in my arm. They are so cute, and also fragile. Sea turtle is a solitaire animal. The babies have to face the world by their selves. Many predators prey them for lunch or dinner. Both lizard and human like their eggs. Eagle and crab like to eat the babies. Sea turtle are endangered species and protected by international law. Nevertheless, people trade their eggs for consumption. It’s not an easy job for Conservationists to take care the turtles. But, I can see obviously, they really love their job. The existing of sea turtle in the sea is very important for the balance of marine ecosystem. &lt;br /&gt;I sit on the beach with a bucket of baby turtles by my side, enjoying the gold sparkling in the sea.  It should be perfect scenery for a beach party. However, there is no beach party, instead of a farewell party that I don’t want it at all. As the sun goes down, it’s time to say goodbye with my little friends. I kiss one of them, and put them on to the sand. I can feel their spirits. Their little flippers are stepping the sand, trying struggle to across anything in front of them. And the most amazing moment is when they are facing the sea water. They just like flying in the sea. It’s their truly home, Ocean. Hopefully they can grow up and come back for nesting in this island, in the next 25 years. Although it’s only Small Island, Sangalaki is a great place to recognize one of the great endangered creature: sea turtle.  </description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69834/Worldwide/My-Travel-Writing-Scholarship-2011-entry-Responsible-Travel</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Worldwide</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69834/Worldwide/My-Travel-Writing-Scholarship-2011-entry-Responsible-Travel#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69834/Worldwide/My-Travel-Writing-Scholarship-2011-entry-Responsible-Travel</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Mar 2011 02:15:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Bagan untuk NKRI (Republic of Indonesia)</title>
      <description>h. asdar: &amp;quot; bener nih mba mau ikut ke bagan??..&amp;quot;&lt;br /&gt;
dina      : &amp;quot; iyah.. bener pak... saya kan harus ikut..&lt;br /&gt;
h. asdar: &amp;quot;mau nginap atau langsung pulang??..&amp;quot;&lt;br /&gt;
dina      : &amp;quot; nginap dong pak.. ya pokoknya saya mau ambil gbr lengkap.. semua aktivitas di bagan&amp;quot;&lt;br /&gt;
h. asdar: &amp;quot; hmm.. ooh ya udah nanti kita buatkan tangganya, biar mbaknya
 gampang nanti naiknya.. kalau istri saya dulu naik bagannya saya 
gendong&amp;quot;&lt;br /&gt;
dina      : &amp;quot; oohh iya ya pak.. pokoknya saya ikut yaah...nanti sore kami udah standby di sini&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan gagah berani pokoknya saya ngotot ikut... saya nggak tau seperti 
apa bentuk dan rupanya bagan milik haji asdar.. yang saya tau bagan itu 
terapung di lautan atau sungai, untuk tangkap ikan, dengan rumah kecil 
diatasnya.. lagi pula dari keterangan pak camat, bagan para nelayan di 
sebatik itu luasnya sekitar 25 m2. hmm lumayan luas kan?...&lt;br /&gt;
kata pak camat juga, bagan bagan nelayan sebatik itu berada di ambalat 
atau ambang batas laut antara Indonesia dan Malaysia... itulah yang 
membuat episode ikan teri ini langsung diamini oleh produser.. pokoknya 
semangat banget deh...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi itu adalah kondisi di siang hari..dan saat malam tiba, nyali saya 
langsung ciut saat melihat sosok bagan yang bikin penasaran itu... Oh My
 God... senyum dan tawa saya langsung hilang melihat bagan yang akan 
saya tinggali selama satu malam nanti..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tinggi bagan sekitar 4 meter dari permukaan air laut.. dan hanya berupa 
batang batang kayu.. gak ada alasnya.. hanya ada alas jaring untuk 
menjemur ikan teri.. bagan ini dilengkapi lampu di bagian dasarnya untuk
 memancing ikan teri masuk perangkap jaring... ini juga alasannya kenapa
 nelayan bagan baru bekerja malam hari..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
anak buah haji asdar dengan cekatan memanjat kayu kayu bagan dan memasang 4 batang bambu untuk dijadikan tangga..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan saya masih ternganga ...gak percaya ini akan terjadi... mau balik 
pulang itu juga tengsin..udah semangat siangnya, masa' langsung ciut.. 
lagian kasian wisnu kalo dia sendirian. saya masih berusaha menenangkan 
pikiran dan tetap menjaga wibawa.. heheheh..&lt;br /&gt;
tapi tetep aja gak bisa boong kalo saya emang takut banget naik ke 
bagan... bukan apa-apa sih.. masalahnya adalah bentuk bagan itu sendiri 
yang cuma pijakan batang bambu, trus tambah lengkaplah ketakutan karena 
gak bisa renang.. saya cuma bayangkan, kalo pas menginjak bambu, trus 
kepeleset.. padahal bawahnya langsung laut.. hadooohh... susah bener yak
 kerjaan ini...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi akhirnya saya sampai diatas juga dengan gemetaran menyusuri bilah 
bambu..dibimbing pak camat dan haji asdar, dan diiringi tawa wisnu yang 
menyebalkan..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sampai di atas bagan saya menuju ke tempat yang paling aman.. sebuah 
gubuk berukuran 1x3 meter..biasanya disinilah tempat berisitrahat para 
nelayan bagan.. di dalamnya lengkap ada kompor, wajan, panci, sampe 
soundsystem.. biar sempit, inilah tempat yang paling aman dan nyaman 
selama di bagan...setidaknya sampai takut saya ilang atau berkurang... 
dari lantai kayu gubuk terlihat jelas ombak lautan di bawah... huuffhh..
 tapi paling nggak lantainya cukup rapat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup lama saya menenangkan diri di dalam sambil buat naskah.. (karena 
gak tau kondisi bagan, saya bawa laptop buat nyicil naskah episode 
sebelumnya)..sementara wisnu mulai beradaptasi sama lingkungannya 
barunya.... keliling bagan.. badan wisnu lumayan ramping alias kurus.. 
dia lincah sekali loncat sana sini sambil bawa kamera...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sekitar jam 22.00 wita, pak asdar mulai mengangkat jaringnya..awalnya 
saya cuma dengar teriakan riang anak anak talent kami lihat hasil 
tangkapan teri... lama lama saya jadi penasaran juga.. akhirnya saya 
beranikan diri keluar gubuk derita itu..bak pengumpul ikan teri dan 
tempat memasaknya gak jauh sih dari gubuk cuma sekitar 3 meter aja.. di 
belakang gubuk persis. tapi jalan buat kesana ituloh, yang penuh 
cobaan... saya harus meniti bambu lagi sambil pegangan atap gubuk.. dan 
dibimbing pak camat tentunya...tapi kali ini gak ada ketawa wisnu, dia 
lagi sibuk ambil gambar sendiri.. astaga.. saya jadi gak tega sama anak 
itu.. saya harus berani..paling nggak, saya ada di sekitar dia, bukannya
 malah sembunyi di gubuk..kan senasib sepenanggungan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
malam itu tangkapan teri cukup bagus kata haji asdar.. haji asdar dan 
para nelayan bagan sebatik punya perhitungan tanggal berdasarkan bulan..
 akhir bulan sampai awal bulan katanya tangkapan bagus karena arus 
sedang tenang..apalagi kalau sedang musim angin selatan, antara bulan 
juni sampai nopember. saat itulah yang paling ideal untuk menjaring 
teri, karena arus laut cukup tenang saat malam, dibandingkan musim 
lainnya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah diangkat ikan teri dipilih, dipisahkan dengan hewan laut lainnya
 yang ikut terjaring..ada ubur ubur gede (langsung dibuang ke laut 
lagi), trus ama sotong (yang ini enak)... ikan teri langsung direbus, 
kata haji asdar inilah yang bikin teri ambalat enak. rebusnya pakai air 
laut campur garam.. maksudnya ditambah garam lagi. meskipun air laut 
sudah asin, tetap harus tambah garam supaya hasilnya kering dan bagus.. 
haji asdar sudah tau takaran pas untuk garamnya.. 15 liter air + 0,5 kg 
garam untuk 4 kali perebusan. Setelah direbus, teri langsung 
ditiriskan.. dan siap untuk dijemur..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu saya dan wisnu memang bertekad nggak tidur untuk melengkapi 
gambar di bagan. apalagi waktu angkat jaring pertama, wisnu nggak dapat 
gambar lengkap, karena bingung mau yang mana duluan sementara dia gak 
mungkin gerak cepat dengan kondisi bagan kayak gitu.. kami rencana akan 
ambil gambar angkat jaring kedua jam 2 dini hari..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi rencana tinggal rencana.. tepat jam 12 malam hujan deras turun... 
tutup kamera, masuk ke gubuk derita.. sementara wisnu, haji asdar, pak 
camat dan yang lainnya tidur diatas jaring berselimut plastik terpal.. 
gak ada yang bisa kami lakukan lagi..dari pada kameranya basah trus 
rusak, tambah panjang itu urusannya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pk. 05.00 wita saya terbangun... semburat merah jingga menerobos ke 
pintu gubuk.. SUNRISE.. bisa dibilang saya gak punya perasaan waktu 
itu.. tapi demi gambar bagus, biarin ajah... saya minta haji asdar 
bangunkan wisnu sampai bangun..dan saya langsung kasih tripod dan 
kameranya, gak peduli dia masih setengah merem... mentari terbit indah 
sekali... luar biasa.. sambil nunggu mentari, haji asdar dan pak camat 
membakar sotong untuk sarapan... subhanalloh... uenaaak banget... sotong
 bakar terasa manis gurih, meskipun tanpa bumbu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
semua ketakutan saya tadi malam hilang.. menikmati mentari sambil makan 
sotong... tapi tetep deg degan, gara2 wisnu ambil gbr dari ujung bagan 
dan tetep pake tripod.. salut...tapi bikin saya berdoa sepanjang dia 
ambil gambar sunrise.. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sambil makan sotong saya dengarkan pengalaman haji asdar membangun usaha
 ikan terinya... cerita yang membuat saya sungguh kagum akan 
keuletannya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini awalnya nggak ada niat jadi 
nelayan bagan.. Asdar muda merantau meninggalkan bone 12 tahun lalu, 
untuk bekerja di Malaysia.. dengan kapal laut, sampailah ia di pulau 
sebatik, pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan 
Malaysia.. Asdar pun bekerja di negeri tetangga sebagai buruh di 
perusahaan kayu.. hanya 3 bulan bertahan.. &amp;quot;tidak ada untung kerja di 
Malaysia,biaya hidup tinggi&amp;quot; kenang haji asdar..&lt;br /&gt;
mulanya asdar muda ingin kembali ke tanah bone..tapi, tertahan karena 
salah satu kerabatnya yang tinggal di desa sungai nyamuk, sebatik 
mengajaknya bekerja di sawah..&lt;br /&gt;
darah pelautnya tak bisa membuatnya bertahan lebih lama di sawah.. cukup
 4 bulan saja, dan asdar muda kembali ke laut..menjadi nelayan udang 
bersama sepupunya yang tinggal desa sungai taiwan, desa yang kini 
ditinggalinya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam satu bulan, haji asdar bisa mengumpulkan uang 200 RM.. hanya 10 
bulan ia menjadi buruh penangkap udang.. setelah menikah dengan 
Samsidar, wanita bone yang besar di Sebatik, haji asdar dapat pinjaman 
perahu dari sang mertua....&lt;br /&gt;
keuletan asdar muda teruji disini... hanya 2 tahun, ia bisa membeli 
perahu sendiri.. dan menjalankan usahanya sendiri... Haji asdar menjadi 
nelayan tangkap udang selama 7 tahun, dan selama itu haji asdar punya 11
 perahu penangkap udang dan belasan anak buah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi kejayaan udang nggak berlangsung lama..&amp;quot; tangkapan udang berkurang 
sejak banyak kapal trawl dari Malaysia....&amp;quot; dan mulai tahun 2004, haji 
Asdar mulai membangun bagan tancap pertamanya...haji asdar memang 
nelayan yang ulet... dari hanya 1 bagan, kini ia punya 7 bagan dengan 
sistem komisi untuk nelayan yang mengelolanya.. haji asdar sudah jadi 
tauke ikan teri...&lt;br /&gt;
haji asdar nggak sendiri... istrinya samsidar juga punya andil besar... 
mereka berbagi tugas.. jika haji asdar di bagan, sang istrilah yang 
bertugas membawa teri kering ke pasar tawau Malaysia...&lt;br /&gt;
di Malaysia, teri kopek dari ambalat terkenal dengan bilis sutra. bilis 
berarti teri.. oleh pedagang pasar, tiap kilogramnya dihargai 8,5 RM 
atau sekitar Rp.25.000,-&lt;br /&gt;
dari 7 bagan miliknya, haji asdar menerima sekitar 3 juta rupiah tiap bagan... penghasilan yang cukup besar bukan??...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
luar biasa memang...pak haji yang ada di depan saya ini relatif masih 
muda.. sosoknya santun dan bersahaja.. umurnya belum sampai 40 tahun, 
tapi sanggup mengubah nasibnya dari buruh udang tangkap jadi tauke ikan 
teri di pulau Sebatik...saya semakin semangat menyimak 
ceritanya...sambil tetap mengunyah sotong bakar tentunya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
semua sukses keluarga haji asdar bukan tanpa cobaan.. awalnya haji asdar
 mendirikan bagannya sangat dekat dengan perbatasan.. ini membuatnya 
sering dapat teror dari tentara laut Malaysia...apalagi waktu itu belum 
banyak patroli TNI AL.. haji asdar tak gentar.. karena ia hanya cari 
rejeki di ambalat.. dan bukan tanpa alasan nelayan sebatik membangun 
bagan di perairan ambalat.. semula alasannya sangat sederhana..&amp;quot;disini 
arusnya kecil, jadi banyak ikan terinya&amp;quot;... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi akhirnya haji asdar mengalah... ia pun memindahkan bagannya ke 
bagian selatan.. dan membangun bagan bagan berikutnya.. &amp;quot; saya senang, 
sekarang ada patroli.. jadi tenang&amp;quot;... sengketa ambalat, bisa jadi 
membawa berkah bagi haji asdar dan nelayan sebatik lainnya.. keamanan 
mereka terjamin sekarang, karena TNI AL rajin patroli di perairan 
itu.Untuk urusan sengketa Ambalat, haji Asdar tidak takut.. ia yakin 
perairan Ambalat itu milik NKRI...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan pertanyakan nasionalisme haji Asdar, meskipun tiap hari ia 
menggunakan mata uang ringgit untuk transaksi, dan menjual terinya ke 
Tawau, Malaysia. Karena bagan bagan yang didirikannya kini tak sekedar 
untuk mencari nafkah...&amp;quot;bagan bagan kami, nelayan Sebatik ini akan jadi 
penanda bahwa Ambalat milik Indonesia, untuk menjaga wilayah Republik 
Indonesia...&amp;quot; matanya menerawang jauh ke cakrawala di ufuk timur... 
menyudahi ceritanya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata kata haji asdar terus terngiang, saat saya mengunjungi mercusuar 
karang unarang keesokannya.. dan saat kami harus kembali melengkapi 
gambar di bagan, dua malam berikutnya... (yang ini gak pake nginep, mau 
ada badai katanya...)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan nggak cuma haji asdar yang yakin ambalat milik kita, saya pun juga..
 jadi seharusnya tak perlu ada sengketa..karena sudah pasti milik 
kita... milik NKRI..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
malam itu, bintang bertaburan bagai bunga di langit Ambalat. cahaya 
bulan berpendar lembut, mengiringi perjalanan kami dari bagan menuju 
desa... indah sekali...menatap langit sambil tiduran di perahu terasa 
begitu damai... subhanalloh...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salut untuk para nelayan Sebatik dan masyarakat yang tinggal 
perbatasan.. mereka setia menunggu janji pemerintah untuk serius 
membangun wilayah perbatasan.. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://ardinakartika.multiply.com/journal/item/86/Bagan_untuk_NKRI..._from_Ambalat_with_love..." target="_blank" title="Bagan untuk NKRI"&gt;ps: from Ambalat with love...&lt;/a&gt;</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69833/Indonesia/Bagan-untuk-NKRI-Republic-of-Indonesia</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69833/Indonesia/Bagan-untuk-NKRI-Republic-of-Indonesia#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69833/Indonesia/Bagan-untuk-NKRI-Republic-of-Indonesia</guid>
      <pubDate>Mon, 14 Mar 2011 01:40:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Pelangi di bumi Lundayeh</title>
      <description>Krayan adalah salah satu kecamatan di kabupaten Nunukan, Kalimantan 
timur yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.. Lundayeh 
adalah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Krayan dan sebagian 
wilayah serawak, malaysia... satu suku, satu bahasa, tapi beda 
negara...hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di ketinggian hampir 1000 mdpl, membuat
 Krayan seolah terisolasi dari Indonesia, karena wilayah ini hanya bisa 
diakses melalui jalur udara. Itupun hanya pesawat kecil jenis cesna atau
 cassa saja yang bisa mendarat disana. maskapai penerbangan dari Tarakan
 ada Susi air dan MAFF..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada jalur darat yang tembus 
kesana. Bisa jadi, akses yang sulit dan menantang itulah yang berkesan 
buat saya.. Entah kenapa, saat 3 tahun lalu kesana, saya punya feeling 
bakal balik lagi ke Krayan...dan kesempatan itu datang awal november 
kemarin.. 12 hari di krayan untuk syuting program anak Cita-citaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suasana
 Krayan desa Long Bawan nggak beda jauh dengan 3 tahun lalu..hanya saja 
sekarang lebih ramai dan lebih banyak mobilnya.. mobil yang bisa jalan 
disini cuma jenis mobil dengan double gardan..soalnya kondisi jalan 
antar desanya bener2 aduhaii...bisa ajojing di mobil dah...mobil-mobil 
itu dibeli dari Malaysia, begitu juga sebagian motor yang ada disana, 
juga dari Malaysia.. plat nomernya aja masih plat nomor Malaysia.. tapi 
ya gimana lagi.. mobil Indonesia ga mungkin masuk sana..mau diangkut 
pake apa??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oiya, kalo soal jalan..ada penurunan..alias lebih 
jelek..terutama jalur dari desa long bawan (desa kecamatan) ke desa long
 midang (desa terakhir di perbatasan), yang jaraknya sekitar 10 km.. 
kalo dulu cuma ada 1 jalan rusak parah sepanjang 100 meter, yang membuat
 kami harus angkat motor buat lewatin itu jalan..tapi kalo sekarang, ada
 4 atau 5 spot jalan jelek sepanjang 100-200 meter yang bikin saya harus
 turun dari boncengan sepeda motor dan jalan kaki kalo mau selamat.. :D 
...kalau musim hujan, mereka bilang &amp;quot;jahat betul jalannya&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meskipun
 tergolong dekat, akses menuju desa Ba'kelalan Malaysia juga ngga 
mudah..dari desa Long Midang (desa terakhir di perbatasan) jaraknya 
hanya sekitar 4-5 km.. bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2 jam atau
 4 jam pp.. kalau dari desa Long Bawan jaraknya sekitar 15 km 
aja..biasanya tiap pagi ojek barang antar negara berangkat ke desa 
Ba'kelalan untuk belanja barang kebutuhan pokok,bbm, dll..kalau musim 
panen tiba, mereka juga membawa beras hasil panen untuk dijual di 
Bakelalan. jalan lintas antar negara ini lebih aduhai lagi kondisinya...
 apalagi kalau musim hujan.. wedeeww... mantaps banget.. naik turun 
bukit..jalanan lumpur..lewat sungai.. lengkap... pokoknya para crosser 
handal nasional itu kalah deh... para ojek barang ini harus lewat jalan 
jahat sambil bawa barang dagangan yang nggak sedikit (diboncengan 
belakang dan di bagian depan)..mereka juga harus membayar pungutan di 
gate (pintu gerbang) desa punakelalan sebesar 5 RM sekali masuk-keluar 
melalui desa itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nggak heran kalau harga bensin di long bawan 
normalnya 12ribu aja perliternya... kalau cuaca buruk, hujan terus 
menerus, bensin bisa mencapai 30ribu perliter..bahkan di desa long layu 
(yang jaraknya 2 hari jalan kaki) harga bensin bisa mencapai 75ribu saat
 cuaca buruk...keren yak?? hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meskipun sulit diakses, Krayan punya sejuta pesona... tiga diantaranya membuat saya kembali terbang ke sana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.
 Garam Gunung...pepatah garam di laut asam digunung ga berlaku disini...
 soalnya Krayan juga penghasil garam gunung, yang diproses secara 
alami.. ada beberapa desa yang memiliki sumur air asin dan tempat 
pengolahan garamnya.. &amp;quot;garam tusu' abuh&amp;quot; dalam bahasa Lundayeh artinya 
garam halus seperti abu.. proses pembuatannya unik..air asin dari sumur 
dimasak dalam bekas drum, sampai airnya berkurang dan hanya tersisa 
butiran halus garamnya..kemudian garam yang masih basah dicetak dalam 
batang bambu.. garam dimasukkan ke dalam batang bambu yang sudah diberi 
lubang kecil di dasarnya. jadi air bisa keluar lewat lubang 
tersebut..kemudian garam dalam bambu di panggang sampai bambunya 
hangus..jadilah garam tercetak bentuk batangan seperti bambu. setelah 
dibersihkan dari kulit bambunya, garam batangan dibungkus daun dan 
diikat dengan akar tanaman.. nah..sayangnya garam tusu' abuh ini hampir 
semuanya dijual ke Malaysia..kalaupun ke Indonesia, biasanya karena 
pesanan.. (episode ini akan tayang di program Cita-citaku Trans7 tgl 25 
Nov 2010 pk. 13.30 WIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. kerajinan tangan topi rong basung dan 
sandal dari rumput hutan... topi unik khas Lundayeh ini terbuat dari 
daun pandan hutan yang sudah dikeringkan dan dilapisi lilitan lidi dari 
pelepah sejenis pohon kelapa..lidi panjang diberi pewarna dari bahan 
alami, dedaunan dari hutan yang menghasilkan warna merah dan ungu serta 
kunyit untuk warna kuning...&lt;br /&gt;sandal rumputnya juga unik..terbuat dari
 rumput hutan yang dibelah dan dikeringkan... lalu dibuat jadi tali 
panjang... tali rumput ini juga diberi pewarna alami.. dasar sandal juga
 terbuat dari daun pandan yang dikeringkan, kemudian di beri lapisan 
plastik terpal supaya tahan air.. lalu bagian atas dilapisi dengan tali 
rumput...lagi-lagi dua hasil kerajinan itu lebih banyak dijual ke 
Malaysia.. topi rong basung biasa dipesan untuk acara pernikahan atau 
pesta..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Peta bau (topi dari manik tanah liat).. Kerajinan ini 
sudah langka..hampir ditinggalkan karena sekarang sudah banyak manik2 
buatan pabrik.. tapi saya beruntung, masih menemukan seorang nenek yang 
bisa membuatnya.. Peta bau, atau hiasan kepala dari manik tanah liat 
biasa digunakan saat acara adat..dulunya peta bau juga menjadi aksesoris
 sekaligus penanda status sosial penggunanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. beras adan... 
ini dia jawaranyaa... the highly recomended rice from Krayan... berasnya
 pulen kecil enak banget... dan yang pasti dijamin sehat, karena proses 
penanamannya yang alami dan tanpa pupuk kimia sama sekali... selesai 
panen, biasanya petani lepaskan kerbaunya di sawah...jadi ya kotoran 
kerbau itulah yang jadi pupuknya..kemudian barulah sawah 
ditanami..setelah ditanami, biasanya sawah ditinggalkan begitu saja 
sampai tiba waktu panen.. sayangnya beras adan ini juga lebih banyak 
dikonsumsi orang Malaysia dan Brunei Darussalam.. dan sayangnya pula, 
waktu kesana kemarin belum masa panen, jadi ga bisa bawa banyak 
berasnya...hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kuliner khas Lundayeh juga ga kalah 
seru.. ada samu' atau telu' (bahan makanan yang diawetkan dengan 
fermentasi garam dan nasi), ada luba' laya (nasi lembek, mirip lontong),
 sayur tengayen yang berlendir tapi gurih (dari daun tumbuhan dekat 
sungai), sayur pucuk daun pakis, sayur umbut dari tanaman hutan (ga tau 
nama tanemannya, lupa nanya) umbutnya dimasak/dibakar dalam bambu, ada 
nasi suk ngang (nasi yang dimasak dalam kantong semar), dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. 
Krayan juga punya tempat peninggalan sejarah..diantaranya kuburan 
batu..sayangnya, 2 kali kesana blom sempat juga lihat kubur batunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hutan lebat dan adventure road yang menyiksa tapi bikin ketagihan...hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Malam sunyi dengan backsound mesin genset...hehehe... listrik cuma ada 6 jam aja..dari jam 6 sore sampai jam 12 malam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.
 Sinyal GSM yang suka-suka...maksudnya suka ada, suka ilang...tapi lebih
 banyak ilangnya sih, terutama kalo lagi hujan.. jangan harap ada 
sinyal...kalo di desa Long midang.. kalo mau dapet sinyal, harus 
nongkrong di deket pager sekolah... ato di tengah lapangan..hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore
 itu..pesawat cassa AL membawa kami kembali ke Tarakan.. diiringi dua 
pelangi dan membawa beribu kenangan tentang negeri para Lundayeh...&lt;br /&gt;12
 hari sudah bersama anak-anak Lundayeh yang luar biasa...menyusuri desa 
Long Bawan, Long Midang, Long Api, Trang Baru (semua jaraknya relatif 
dekat) dan yang terjauh, melintas batas negara ke desa Ba'kelalan 
Malaysia..perjalanan tugas kali ini membuat saya makin kagum dengan 
orang-orang yang tinggal di desa perbatasan terpencil.. dengan segala 
keterbatasan akses dan harga yang mahal, mereka tetap semangat... 
semangat mencintai Indonesia..
</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69641/Indonesia/Pelangi-di-bumi-Lundayeh</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69641/Indonesia/Pelangi-di-bumi-Lundayeh#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/69641/Indonesia/Pelangi-di-bumi-Lundayeh</guid>
      <pubDate>Tue, 8 Mar 2011 17:17:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Photos: Sawai.. a misty hidden place and beautiful cacatua</title>
      <description>a beautiful place in north of seram island mollucas</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/photos/22094/Indonesia/Sawai-a-misty-hidden-place-and-beautiful-cacatua</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/photos/22094/Indonesia/Sawai-a-misty-hidden-place-and-beautiful-cacatua#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/photos/22094/Indonesia/Sawai-a-misty-hidden-place-and-beautiful-cacatua</guid>
      <pubDate>Mon, 10 May 2010 00:50:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Sawai.. a misty hidden place and beautiful cacatua</title>
      <description>&lt;div&gt;Damai tentram di Utara Seram...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacatua 
Moluccensis, Eleonora Galerita, Lorius Domisela dan Lorius Lori adalah 
penghuni Pusat Rehabilitasi Satwa Masihulan, Sawai, Seram Utara.. 
burung-burung cantik endemik kepulauan maluku dan papua ini sedang 
dilatih untuk liar..&lt;br /&gt;Mereka sangat cantik dan anggun.. nggak heran 
kalau jadi korban perdagangan ilegal..&lt;br /&gt;PRS Masihulan, jadi salah satu
 lokasi yang dikunjungi wisatawan di Sawai..sayangnya, tempat ini kurang
 terawat..fasilitas toilet rusak, tidak ada air dan belum diperbaiki.. 
alasannya blum ada funding lagi yang masuk, bahkan perawat satwa disana 
sudah lama gak terima honor..mereka praktis hanya mengandalkan honor 
dari wisatawan yang datang.. Para perawat satwa disana dulunya adalah 
pemburu burung kakatua dan nuri yang dilindungi..tapi sejak berdirinya 
PRS, mereka berhenti berburu dan bekerja di PRS sebagai perawat satwa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah...buat
 yang hobby treking, sawai dan TN Manusela bisa dicoba..pantau burung 
liar di atas platform di ketinggian 35 m ato 50 m (tapi kemarin saya 
engga mau nyoba..hehehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo mau snorkling juga bisa.. di 
dekat tebing ada beberapa spot yang lumayan cantik..sayangnya di sana 
juga banyak karang yang rusak bekas bom ikan.. terus ada gua bawah laut 
yang pintu masuknya menghadapa lautan..yang ini saya juga ga 
masuk..hehehe..seyeeemm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sebagai tempat tujuan 
wisata andalan di Seram, sawai masih kurang terurus.. yang bagus hanya 
di area penginapan milik pak Ali saja..sementara di desanya sendiri 
masih kurang terawat..masih suka buang sampah ke laut, penataan desa 
yang kurang rapi.. sayang banget, padahal potensi wisatanya lumayan 
okeh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penginapan pak Ali sederhana tapi nyaman..bangunan dari 
kayu diatas laut..&lt;br /&gt;Pak Ali membuat taman coral di area 
penginapannya.. karang-karang cantik ia ambil dari laut lepas dan di 
tanam kembali di taman coralnya.. &lt;br /&gt;waktu kami kesana, kebetulan 
sedang ada transplantasi karang oleh petugas balai taman nasional 
manusela.. semoga program itu terus berlanjut..sampai karang-karang di 
sawai pulih dan cantik lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FYI Sawai sangat cocok buat tempat 
menyepi..menjauh dari kota..soalnya:&lt;br /&gt;1. Nggak ada sinyal GSM 
disana...horeee...hehehe..putus komunikasi dari dunia luar..lumayan 
merepotkan buat koordinasi...yang berlaku disini cuma HP satelit.. tapi 
jangan kuatir, kalo gak bawa HP satelit, ada wartel satelit yang 
tarifnya dijamin mahal bener..dan kalo malem, pasti ngantri buat 
nelponnya..huehehehe...&lt;br /&gt;2. di penginapan pak Ali gak ada 
TVnya..cihuuii... asik kaan??..benar-benar cocok buat yang mau hanimun..
 nah, kalo buat kita??... jadinya gak update apa pun yang terjadi diluar
 sawai. termasuk ada badai laurence di philipine yang dampaknya sampai 
perairan maluku..(hhff, pantesan ujan mulu...ga taunya emang lagi ada 
badai..hehehe..). Beruntung talent2 kami di episode ini pada doyan 
tampil, genit dan konyol...jadi lumayanlah buat hiburan tiap malem..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan
 ke Sawai emang butuh tenaga dan waktu..dari Ambon, ada beberapa rute 
yang bisa ditempuh:&lt;br /&gt;1. kalo bawa mobil dari ambon, harus nyeberang 
lewat pelabuhan ferry di Liang, penyeberangannya sih cuma 2 jam, tapi 
antrian ferrynya itu looh.. turun ferry bisa langsung tancap gas ke 
sawai.. perjalanan sekitar 5 jam, baru sampai di desa sawai..&lt;br /&gt;2. Kalo
 gak pake mobil,  dari pelabuhan tulehu pulau ambon,bisa nyebrang ke 
pelabuhan masohi, seram naik ferry cepat sekitar 2 jam juga. Dari 
masohi, naik angkutan ke sawai (kijang) 75rb/org..perjalanan dari masohi
 sekitar 4 jam..Atau bisa naik angkutan ke desa saka, desa tetangga 
sawai, trus nanti dijemput sama longboatnya Pak Ali, langsung turun di 
dermaga penginapan.. kata mereka, ini jalan yang paling enak 
dibandingkan langsung ke desa sawai yang jalannya berliku dan di dekat 
desa jalanan rusak parah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eniwei...dengan segala kekurangan dan 
kelebihan sawai, ada dua hal yang selalu bikin kangen sawai:&lt;br /&gt;1. 
nongkrong di teras ato dermaga penginapan, saat pagi ato sore...&lt;br /&gt;kalo
 pagi, kita bisa puas melototin si ikan badut, ikan kakatua, ikan 
bendera, lionfish, kima, dll sambil nyeruput teh anget ama makan 
roti..kasih makan ikan juga...&lt;br /&gt;kalo sore, sambil nunggu maghrib bisa 
duduk di dermaga.. liat lautan...ato liat anak2 main air.. (asal gak 
lagi hujan)..&lt;br /&gt;2. saat malam...duduk di teras..sambil liatin 
bintang... &lt;br /&gt;hhfff...bener-bener deeh..sawai memang damai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember
 2009&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/57500/Indonesia/Sawai-a-misty-hidden-place-and-beautiful-cacatua</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/57500/Indonesia/Sawai-a-misty-hidden-place-and-beautiful-cacatua#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/57500/Indonesia/Sawai-a-misty-hidden-place-and-beautiful-cacatua</guid>
      <pubDate>Mon, 10 May 2010 00:40:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Welkom in Malang</title>
      <description>hmmm.... lembutnya ice cream coklat &lt;span&gt;&amp;quot;toko oen&amp;quot;&lt;/span&gt; terasa lumer di lidah..&lt;br /&gt;persinggahan saya di kota malang emang pas banget... abis makan bakso bakar, lanjut ice cream coklat di toko oen... &lt;br /&gt;toko
yang satu ini biar udah sepuh (tua) emang gak ada matinya...selalu jadi
tujuan wisata kuliner bagi siapa aja yang datang ke malang...suasananya
juga tempo dulu banget.. dan yang pasti saya suka ice creamnya, gak
bikin tenggorokan sakit... coklatnya terasa mantep banget...hehehe... &lt;br /&gt;lagi lagi... bukannya rakus.. saya abis dua scoup.. &lt;br /&gt;sebenarnya
mo nambah lagi sih...tapi, dua aja cukuplah... kalau saya doyan ice
cream, vira lain lagi.. sepiring omlete dan secangkir kopi udah bikin
dia senyum senyum sendiri... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;toko makanan dari jaman
belanda ini juga selalu ramai...  waktu kami datang, ada rombongan
turis asing yang kayaknya juga lagi nostalgia...&lt;br /&gt;nggak heran
sih..kongkow di toko oen menjelang sore emang asik banget... kursi
kursi pendek dan meja bundarnya bikin ngobrol jadi tambah
santai..berasa kayak di teras rumah...sayang karena waktu yang cuma
sedikit, saya nggak sempat nyicipin makanan lainnya...   &lt;br /&gt;   &lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/54014/Indonesia/Welkom-in-Malang</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/54014/Indonesia/Welkom-in-Malang#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/54014/Indonesia/Welkom-in-Malang</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Jan 2010 19:02:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>1</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>KM Kalabia, a conservation floating school at raja ampat island of papua</title>
      <description>&lt;div&gt;hujan semakin deras saat speed boat yang kami tumpangi merapat ke lambung kapal motor kalabia.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sore
13 september lalu, kapal kalabia berlayar menembus hujan deras di
sorong... menuju pulau batanta di kabupaten raja ampat.. di sana, 4
desa sudah menunggu kedatangan kapal dengan misi pendidikan konservasi
laut ini...&lt;br /&gt;penampilan kalabia dari luar memang unik.. lukisan
beragam hewan laut beraneka warna memenuhi seluruh badan kapal.. warna
warna cerah, khas anak anak... &lt;br /&gt;ruangan utama kapal, seperti ruang
keluarga di rumah.. hangat dan tentu saja lengkap dengan perangkat
audio visual, LCD TV, dan buku buku tentang alam dan hewan laut..&lt;br /&gt;kemudian
kami diantar ke lantai atas, kamar kru.. ada 3 kamar di lantai atas,
dan kamarnya benar benar nyaman.. 4 ranjang bertingkat, masing masing
dilengkapi lampu baca dan kipas angin.. di masing masing kamar ada AC
yang siap mendinginkan tubuh kalau cuaca panas..&lt;br /&gt;sayangnya, hujan
masih lumayan deras.. niat saya jalan jalan keliling kapal jadi
batal... penerbangan 5 jam dari jakarta ke sorong juga bikin cape..
makanya begitu menyentuh kasur, saya langsung lelap..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu
makan malam juga bikin surprise tersendiri... sejak berangkat dari
jakarta, saya sudah menyiapkan mental untuk makan seadanya, sedarurat
daruratnya saat liputan di kepulauan raja ampat.. tapi ternyata, saya
salah besar.. kapal kalabia, punya koki yang luar biasa... pak abshalom
namanya... masakannya benar benar yahuud... masakan yang akhirnya kami
rindukan, setelah kami meninggalkan kapal kalabia.. hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menginap
di kapal kalabia serasa menginap di hotel.. kamar tidurnya bagus,
listrik 24 jam, peralatan lengkap, koki yahud, kamar mandi bersih, kru
kapal yang semuanya ramah dan menyenangkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;program pendidikan
konservasi di kapal ini juga menarik... nggak cuma teori yang
diajarkan.. beragam permainan mengajak anak anak lebih memahami dan mau
menjaga lingkungan dan laut mereka... dan kedatangan kalabia ke setiap
desa, benar benar menjadi hiburan tersendiri bagi anak anak di 88 desa
di kepulauan raja ampat.. nama kalabia sendiri diambil dari nama ikan
endemik di daerah papua barat.. ikan kalabia atau ikan mandemoor..
adalah jenis hiu jinak yang bergerak dengan siripnya, sehingga tampak
seperti berjalan atau merangkak.. ikan ini mudah ditemui di daerah
bakau di desa arefi, batanta..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak pengalaman dan pelajaran
yang saya dapat selama berlayar bersama KM Kalabia.. semoga Kalabia
akan terus berlayar untuk anak anak papua.. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/54013/Indonesia/KM-Kalabia-a-conservation-floating-school-at-raja-ampat-island-of-papua</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/54013/Indonesia/KM-Kalabia-a-conservation-floating-school-at-raja-ampat-island-of-papua#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/story/54013/Indonesia/KM-Kalabia-a-conservation-floating-school-at-raja-ampat-island-of-papua</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Jan 2010 18:55:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
    <item>
      <title>Photos: Turtle can fly at Sangalaki island</title>
      <description>A heavenly island of sea turtle</description>
      <link>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/photos/20687/Indonesia/Turtle-can-fly-at-Sangalaki-island</link>
      <category>Travel</category>
      <category>Indonesia</category>
      <author>ardinakartika</author>
      <comments>https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/photos/20687/Indonesia/Turtle-can-fly-at-Sangalaki-island#comments</comments>
      <guid isPermaLink="true">https://journals.worldnomads.com/ardinakartika/photos/20687/Indonesia/Turtle-can-fly-at-Sangalaki-island</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Jan 2010 18:10:00 GMT</pubDate>
      <slash:comments>0</slash:comments>
    </item>
  </channel>
</rss>